https://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/issue/feedJurnal Penelitian Farmasi Indonesia2025-12-31T00:00:00+00:00apt. Benni Iskandar S.Farm, M.Si., Ph.D[email protected]Open Journal Systems<p> </p> <div style="border: 1px #499015 dotted; padding: 10px; background-color: #f8f9f8; text-align: left;"> <ol> <li>Journal Title: <a href="https://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi">Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia</a></li> <li>Initials: JPFI</li> <li>Frequency: June & December</li> <li>p-ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1344675184">2302-187X</a></li> <li>e-ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1547174218">2656-3614</a></li> <li>Status: Nasional Terakreditasi Sinta 5</li> <li>Editor in Chief: <a href="https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57188652721">Ihsan Ikhtiarudin</a>, M.Si</li> <li>Publisher: Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau</li> </ol> </div> <p style="text-align: left;"><img style="margin-left: 8px; margin-right: 15px; box-shadow: 2px 2px 2px gray; float: left;" src="https://ejournal.stifar-riau.ac.id/public/site/images/0js/cover-keciljpfi.png" alt="" width="150" height="210" /></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia</strong> adalah publikasi ilmiah berkala yang terbit dua kali dalam satu tahun (Juni dan Desember) dan menggunakan sistem peer-review dalam seleksi makalah. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia menerima naskah publikasi tentang hasil penelitian, survei dan telaah pustaka yang erat kaitanya dengan bidang kefarmasian dan kesehatan, seperti: Biologi Farmasi/Farmasi Bahan Alam/Kimia Bahan Alam, Farmakologi, Farmasi Klinik, Teknologi Farmasi, Kimia Farmasi, Kimia Medisinal, Sintesa Obat, dan bidang Ilmu lain yang berhubungan dengan kefarmasian dan kesehatan. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia telah terakreditasi<strong> Sinta 5</strong> (2020-2024) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi,Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia No. 204/E/KPT/2022.</p>https://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/1993POTENSI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN VARIASI EKSTRAK ETANOL DAUN KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) DARI DAERAH MUARO LABUH DENGAN METODE DPPH2025-09-02T01:30:43+00:00Fathnur Sani Kasmadi[email protected]Bima Arya Nugraha[email protected]M.Rifqi Efendi[email protected]Entang Komalasari[email protected]Tri Nadia Putri[email protected]<p>Antioksidan berfungsi sebagai penstabil dengan cara memberikan elektron yang mampu menghambat reaksi berantai radikal bebas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa variasi pelarut etanol yang digunakan dan lokasi tumbuh suatu tanaman mempengaruhi aktivitas antioksidan dari tanaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi aktivitas antioksidan dari variasi ekstrak etanol daun kayu manis (25%, 50% dan 100%). Metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH dengan kontrol positif yang digunakan adalah vitamin C. Hasil menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok. Dimana ekstrak etanol 25% memiliki antivitas antioksidan yang sangat kuat (IC<sub>50</sub> = 38,24 ± 0,67 ppm), sedangkan ekstrak etanol 50% (IC<sub>50</sub> = 123,17 ± 0,83 ppm) dan 100% (IC<sub>50</sub> = 136,18 ± 2,51 ppm) dari daun kayu manis memiliki aktivitas sedang.</p> <p>Antioxidants function as stabilizers by providing electrons that can inhibit free radical chain reactions. Previous studies have shown that variations in ethanol solvents used and the location where a plant grows affect the antioxidant activity of the plant. This study aims to identify the antioxidant activity of variations in cinnamon leaf ethanol extract (25%, 50% and 100%). The method used to test antioxidant activity is the DPPH method with the positive control used being vitamin C. The results showed significant differences between groups. Where 25% ethanol extract has very strong antioxidant activity (IC<sub>50</sub> = 38.24 ± 0.67 ppm), while 50% ethanol extract (IC<sub>50</sub> = 123.17 ± 0.83 ppm) and 100% (IC<sub>50</sub> = 136.18 ± 2.51 ppm) from cinnamon leaves have moderate activity.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Fathnur Sani Kasmadi, Bima Arya Nugraha, M.Rifqi Efendi, Entang Komalasari, Tri Nadia Putrihttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2098PROFIL PENGGUNAAN ANTIDIABETES ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PEKANBARU MEDICAL CENTER (PMC) TAHUN 20242025-12-23T08:36:15+00:00Husnawati[email protected]Adinda Salwa Nabilla[email protected]<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh secara efektif tidak dapat menggunakan hasil insulinnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antidiabetes oral pada pasien DM tipe 2 di poli rawat jalan Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) tahun 2024. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang mendapatkan obat oral di poli rawat jalan RS PMC tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan jenis penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dan analisis data dilakukan secara deskriptif untuk melihat gambaran penggunaan antidiabetes oral pada pasien DM tipe 2 di poli rawat jalan RS PMC pada tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (66,27%), dengan penggunaan obat oral terbanyak pada rentang usia pra lansia 45-59 tahun sebanyak 56,63%. Antidiabetes yang paling banyak digunakan di Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) berdasarkan zat aktif dan golongan obat adalah zat aktif glimepiride sebanyak 48,20% dengan golongan sulfonilurea sebanyak 54,68% dan zat aktif metformin sebanyak 34,53% dengan golongan biguanid. Obat generik dan dagang yang paling banyak digunakan adalah generik sebanyak 100%. Terapi tunggal dan kombinasi yang paling banyak digunakan yaitu terapi kombinasi sebanyak 53,01%, dan kombinasi yang banyak digunakan yaitu kombinasi glimepiride dengan metformin sebanyak 68,18%.</p> <p>Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot effectively use its insulin. The purpose of this study was to determine the description of the use of oral antidiabetic drugs in type 2 DM patients in the outpatient clinic of Pekanbaru Medical Center (PMC) Hospital in 2024. The sample of this study was type 2 DM patients who received oral medication in the outpatient clinic of PMC Hospital in 2024. The method used in this study was an observational study with retrospective data collection and descriptive data analysis to see the description of the use of oral antidiabetic drugs in type 2 DM patients in the outpatient clinic of PMC Hospital in 2024. The results showed that the majority of respondents were female (66.27%), with the use of oral medication in the pre-elderly age range of 45-59 years as much as 56.63%. The most widely used antidiabetic drugs at Pekanbaru Medical Center (PMC) Hospital based on active ingredients and drug class are glimepiride (48.20%), sulfonylurea (54.68%), and metformin (34.53%), biguanide (34.53%). Generic and trade names are the most widely used drugs, accounting for 100%. The most commonly used single and combination therapies are combination therapy (53.01%), and the most commonly used combination is glimepiride and metformin (68.18%).</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Husnawati, Adinda Salwa Nabillahttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2160PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU SWAMEDIKASI MAHASISWA FARMASI UNIVERSITAS X KOTA KUPANG2025-11-25T09:28:26+00:00Yohana Febriani Putri Peu Patty[email protected]Christiani Margaretha Odi Sinuor[email protected]Jofrin Rosliana Elodea[email protected]Dian Parwaati[email protected]<p>Secara global, praktik swamedikasi lebih sering ditemukan di negara berkembang dibandingkan negara maju. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain urgensi kondisi kesehatan, keterbatasan waktu, jarak rumah ke fasilitas kesehatan yang jauh, serta kemudahan akses terhadap obat-obatan. Hasil studi sistematik review dan meta-analisis melaporkan bahwa prevalensi swamedikasi di kalangan mahasiswa di seluruh dunia tergolong tinggi, dan fenomena ini dapat dipengaruhi tingkat pendidikan dan kemampuan memperoleh informasi kesehatan pada kelompok mahasiswa.. Penelitian ini berfokus pada gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku swamedikasi serta melihat ada tidaknya hubungan antara pengetahuan terhadap sikap dan perilaku swamedikasi serta hubungan antara sikap terhadap perilaku swamedikasi di kalangan mahasiswa Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain <em>cross-sectional</em> menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, serta didistribusikan melalui <em>google form. </em>Dilakukan analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik pengetahuan, sikap dan sindakan mahasiswa serta uji korelasi non parametrik. Tingkat pengetahuan mahasiswa farmasi di Universitas X masuk dalam kategori baik (59,6%), mahatiswa farmasi menunjukkan sikap yang positif terhadap swamedikasi (94,2%) dengan perilaku swamedikasi yang rasional (94,2%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap mahasiswa farmasi terhadap swamedikasi, serta antara sikap dan perilaku swamedikasi mahasiswa. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi yang dilakukan oleh mahasiswa farmasi.</p> <p>Self-medication practices are globally more commonly observed in developing countries than in developed countries. Several factors, such as urgency, lack of time, long distances from home to healthcare facilities, and the ease of access to medicines, contribute to individuals engaging in self-medication. A systematic review and meta-analysis reported that the prevalence of self-medication among university students worldwide is relatively high, and this phenomenon may be influenced by educational level and the ability to access health-related information among students. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices related to self-medication and to examine the relationships between knowledge and attitudes, knowledge and practices, as well as attitudes and practices of self-medication among university students. This research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach, using a questionnaire that had been tested for validity and reliability and distributed via Google Forms. Descriptive analysis was conducted to characterize students’ knowledge, attitudes, and practices, along with non-parametric correlation tests. The level of knowledge among pharmacy students at University X was categorized as good (59.6%). Pharmacy students demonstrated positive attitudes toward self-medication (94.2%) and rational self-medication practices (94.2%). A significant relationship was found between students’ level of knowledge and attitudes toward self-medication, as well as between attitudes and practices. However, no significant relationship was found between the level of knowledge and self-medication practices among students.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Yohana Febriani Putri Peu Patty, Christiani Margaretha Odi Sinuor, Jofrin Rosliana Elodea, Dian Parwaatihttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2172SYNTHESIS AND α-GLUCOSIDASE INHIBITORY EVALUATION OF N-BENZENESULFONYL PYRIDAZINONE2025-12-01T15:58:32+00:00Noval Herfindo[email protected]Fadila Aisyah[email protected]<p>Turunan piridazinon diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk potensi sebagai antidiabetik melalui penghambatan enzim α-glukosidase. Pada penelitian ini, turunan <em>N</em>-benzensulfonil piridazinon, yaitu 6-(3-bromofenil)-2-(fenilsulfonil)piridazin-3(2<em>H</em>)-on<strong> (7)</strong>, telah disintesis dan dikonfirmasi strukturnya menggunakan analisis FTIR, ¹H-NMR, dan HRMS. Studi <em>molecular docking</em> dilakukan menggunakan struktur α-glukosidase lisosomal manusia (PDB ID: 5NN5) untuk memprediksi afinitas ikatan dan interaksi kunci pada sisi aktif enzim. Hasil <em>docking</em> menunjukkan bahwa senyawa <strong>7</strong> memiliki <em>binding score</em> (<em>S</em>) sebesar –10,96, lebih tinggi dibandingkan akarbosa (<em>S</em> = –18,24), serta menghasilkan interaksi ikatan hidrogen yang lebih sedikit. Uji penghambatan α-glukosidase secara <em>in vitro</em> menggunakan enzim α-glukosidase <em>Saccharomyces cerevisiae</em> menunjukkan aktivitas yang lemah, di mana senyawa <strong>7</strong> hanya menghambat enzim sebesar 2,5% pada konsentrasi 50 μM, dibandingkan 47,8% oleh akarbosa. Meskipun sesuai prediksi <em>docking</em>, kelarutan senyawa <strong>7</strong> yang sangat rendah diduga berkontribusi terhadap perbedaan signifikan aktivitas biologis tersebut. Dengan demikian, kerangka piridazinon tetap menjadi struktur yang menjanjikan untuk dimodifikasi lebih lanjut guna meningkatkan potensi dan khususnya kelarutan senyawanya.</p> <p>Pyridazinone derivatives are known for a wide range of biological activities, including potential antidiabetic properties through α-glucosidase inhibition. In this study, the <em>N</em>-benzenesulfonyl pyridazinone derivative, 6-(3-bromophenyl)-2-(phenylsulfonyl)pyridazin-3(2<em>H</em>)-one (<strong>7</strong>) was synthesized and confirmed its structure by using FTIR, <sup>1</sup>H-NMR, and HRMS analyses. Molecular docking was performed using the human lysosomal α-glucosidase structure (PDB ID: 5NN5) to predict its binding affinity and key interactions within the active site. Docking results showed that compound <strong>7</strong> exhibited a binding score (<em>S</em>) of –10.96, lower than that of acarbose (<em>S</em> = –18.24), and formed fewer hydrogen-bond interactions. The <em>in vitro</em> α-glucosidase inhibitory assay using <em>Saccharomyces cerevisiae</em> α-glucosidase demonstrated weak activity, where compound <strong>7</strong> inhibited the enzyme by only 2.5% at 50 μM, compared to 47.8% inhibition by acarbose. Although the result as predicted, the poor solubility of compound <strong>7</strong> may have contributed to significant difference of their biological activity. Therefore, the pyridazinone scaffold remains a promising structural framework for further modification to enhance potency and specifically its solubility.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Noval Herfindo, Fadila Aisyahhttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2171UJI AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK DAUN KITOLOD (Hippobroma longiflora L.) TERHADAP TIKUS JANTAN PUTIH2025-11-29T03:38:35+00:00Ria Afrianti[email protected]Nessa[email protected]Atilla Widya Tiara[email protected]<p>Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin berbentuk kristal yang secara normal terdapat dalam tubuh. Kadar asam urat yang tinggi (hiperurisemia) dapat menyebabkan penumpukan kristal di persendian, sehingga memicu penyakit gout. Asam urat dapat diturunkan dengan menggunakan daun kitolod karena didalam daun kitolod terdapat senyawa yang berperan dalam menurunkan kadar asam urat yaitu flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kitolod (<em>Hippobroma longiflora</em> L.) dalam menurunkan kadar asam urat pada tikus jantan putih. Pada penelitian ini hewan uji berjumlah 24 ekor tikus dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kontorl negatif, kontrol positif, pembanding, dosis 100 mg/kgBB, dosis 200 mg/kgBB, dan dosis 400 mg/kgBB. Hewan diinduksi menggunakan jus hati ayam dan potassium oxonate selama 10 hari, pengukuran kadar asam urat dilakukan dengan menggunakan alat fotometer klinik Mindray BA-88A. Nilai rata-rata kadar asam urat pada kelompok kontrol negatif adalah 4,925±0,386 mg/dL, kelompok kontrol positif adalah 8,825±0,411 mg/dL, kelompok pembanding adalah 7,125±0,680 mg/dL, kelompok dosis 100 mg/kgBB adalah 7,825±0,450 mg/dL, kelompok dosis 200 mg/kgBB adalah 7,950±0,500 mg/dL dan kelompok dosis 400 mg/kgBB adalah 7,225±0,670 mg/dL. Hasil nilai rata-rata kadar asam urat kelompok dosis 400 mg/kgBB secara signifikan (p<0,05) mendekati nilai rata-rata kadar asam urat kelompok pembanding. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun kitolod dapat menurunkan kadar asam urat pada tikus putih jantan hiperurisemia.</p> <p>Uric acid is the end product of purine metabolism in crystal form that is normally found in the body. High levels of uric acid (hyperuricemia) can lead to the accumulation of crystals in the joints, triggering gout. Uric acid can be reduced using kitolod leaves because they contain compounds that play a role in lowering uric acid levels, namely flavonoids. The aim of this study is to determine the effect of giving kitolod leaf extract (<em>Hippobroma longiflora</em> L.) in lowering uric acid levels in male white rats. In this study, the test animals consisted of 24 rats divided into 6 groups, namely negative control, positive control, comparator, 100 mg/kg body weight dose, 200 mg/kg body weight dose, and 400 mg/kg body weight dose. Animals were induced using chicken liver juice and potassium oxonate for 10 days, and uric acid levels were measured using the Mindray BA-88A clinical photometer. The average uric acid level in the negative control group is 4.925±0.386 mg/dL, in the positive control group is 8.825±0.411 mg/dL, in the comparison group is 7.125±0.680 mg/dL, in the 100 mg/kg body weight dose group is 7.825±0.450 mg/dL, in the 200 mg/kg body weight dose group is 7.950±0.500 mg/dL, and in the 400 mg/kg body weight dose group is 7.225±0.670 mg/dL. The average uric acid level in the 400 mg/kg body weight dose group is significantly (p<0.05) close to the average uric acid level of the comparison group. Thus, it can be concluded that the administration of kitolod leaf extract can lower uric acid levels in male white rats with hyperuricemia.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Ria Afrianti, Nessa, Atilla Widya Tiarahttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2165VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR KETOPROFEN GENERIK PADA SEDIAAN TABLET SALUT SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV2025-12-28T13:31:37+00:00Rahma Dona[email protected]Tilar Eka Widya Ningrum[email protected]Haiyul Fadhli[email protected]Sri Amanda Jaya Aprilia[email protected]<p>Validasi metode analisis merupakan tahap fundamental untuk memastikan reliabilitas suatu prosedur sehingga menghasilkan data yang valid, akurat, presisi, spesifik, serta linear. Parameter yang dievaluasi meliputi linearitas, spesifisitas, akurasi, presisi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantitasi (LOQ). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode spektrofotometri UV dalam penetapan kadar ketoprofen generik pada sediaan tablet salut dengan menggunakan pelarut etanol p.a Hasil pengukuran menunjukkan panjang gelombang maksimum pada 254 nm dengan pengukuran pada konsentrasi standar 8 µg/mL Hasil dari parameter validasi metode ini didapatkan uji linearitas menghasilkan koefisien korelasi (R²) sebesar 0,9989; nilai LOD 0,4087 µg/mL dan LOQ 1,2272 µg/mL; uji akurasi menggunakan metode <em>spiked-placebo recovery</em> menunjukkan persentase perolehan kembali dalam rentang 100,05–101,42%, sedangkan uji presisi <em>intraday</em> menghasilkan nilai %RSD < 2%. Pada penetapan kadar kelima sampel tablet salut ketoprofen generik menunjukkan hasil sebesar 100,80–101,62 % (memenuhi rentang persyaratan Farmakope Indonesia Edisi VI yaitu 92,5–107,5%). Dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar ketoprofen generik dalam tablet salut dengan metode spektrofotometri UV menggunakan pelarut etanol p.a terbukti valid dan dapat diaplikasikan untuk analisis kuantitatif ketoprofen dalam sediaan farmasi.</p> <p>Validation of analytical methods is a fundamental stage to ensure the reliability of a procedure so that it produces valid, accurate, precise, specific, and linear data. The parameters evaluated include linearity, specificity, accuracy, precision, limit of detection (LOD), and limit of quantitation (LOQ). This study aims to validate the UV spectrophotometry method in determining the level of generic ketoprofen in coated tablets using ethanol p.a as solvent. The measurement results showed a maximum wavelength at 254 nm with measurements at a standard concentration of 8 µg/mL. The results of the validation parameters of this method obtained a linearity test producing a correlation coefficient (R²) 0.9989; LOD value of 0.4087 µg/mL and LOQ of 1.2272 µg/mL; accuracy test using the spiked-placebo recovery method showed a recovery percentage in the range of 100.05–101.42%, while the intraday precision test produced a % RSD value < 2%. In determining the levels of five samples of generic ketoprofen coated tablets, the results showed 100.80–101.62% (meeting the requirements limits of the Indonesian Pharmacopoeia Edition VI, namely 92.5–107.5%). It can be concluded that the determination of generic ketoprofen levels in coated tablets by the UV spectrophotometry method using ethanol p.a as solvent is proven valid and can be applied for the quantitative analysis of ketoprofen in pharmaceutical preparations.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Rahma Dona, Tilar Eka Widya Ningrum, Haiyul Fadhli, Sri Amanda Jaya Apriliahttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2158FORMULASI SEDIAN GEL EKSTRAK KOLAGEN KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.) DENGAN PENAMBAHAN CMC (Carboxymethyl cellulose) SEBAGAI GELLING AGENT2025-12-29T05:25:29+00:00Liza Mahera[email protected]Eka Arismayanti[email protected]Mufidhatul Muqarramah[email protected]Harun Indra Kusuma[email protected]Bambang Darmono[email protected]<p>Kolagen merupakan komponen struktural penting yang ditemukan di hampir semua organ hewan dan manusia. Namun, munculnya berbagai penyakit dan ditambah pertimbangan agama, telah membatasi penggunaan kolagen dari mamalia. Oleh sebab itu, kolagen dari kulit ikan menjadi alternatif yang menjanjikan. Kolagen kulit ikan tidak hanya aman secara keagamaan dan biologis, tapi juga memiliki sifat anti-inflamasi. Salah satu sumber potensial adalah kulit ikan patin (<em>Pangasius</em> sp.). Penelitian terdahulu melaporkan aktivitas antioksidan kolagen dari kulit ikan patin mencapai ~20,45 µg ferosulfat/g dan potensi anti-inflamasi in vitro yang baik. Namun, hingga kini ekstrak kolagen kulit ikan patin belum dikomersialkan sebagai obat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan merumuskan sediaan gel topikal dari ekstrak kolagen kulit ikan patin dengan penambahan CMC (karboksimetilselulosa) sebagai <em>gelling agent</em>. Metode penelitian eksperimental dilakukan dengan dua formula gel yang berbeda konsentrasi CMC (0,5 % dan 1 %) serta variasi konsentrasi kolagen 10 %, 15 %, dan 20 %. Ekstraksi kolagen dilakukan melalui pra-perlakuan NaOH dan CH₃COOH lalu ekstraksi dengan air, diikuti pengeringan. Hasil menunjukkan rendemen kolagen kulit ikan patin sebesar 13,79 %, karakteristik FTIR menunjukkan adanya gugus amida A, B, I, II, III yang khas kolagen, dan gel terbaik adalah formula dengan CMC 0,5 % pada konsentrasi kolagen 10 % dan 15 % yang memenuhi persyaratan mutu: tekstur semi-padat, warna putih, homogen, pH aman untuk aplikasi kulit (4,5-5,0), daya sebar dalam rentang 5-7 cm, dan daya lekat (>1 detik). Kesimpulannya, ekstrak kolagen kulit ikan patin memiliki potensi sebagai bahan baku gel topikal untuk penyembuhan luka.</p> <p>Collagen is an important structural component found in almost all animal and human organs. However, the emergence of various diseases and religious considerations have limited the use of collagen from mammals. Therefore, collagen from fish skin has become a promising alternative. One potential source is catfish skin (<em>Pangasius</em> sp.). Previous studies have reported that the antioxidant activity of collagen from catfish skin reaches ~20.45 µg ferrosulfate/g and has good in vitro anti-inflammatory potential. However, to date, catfish skin collagen extract has not been commercialized as a wound healing drug. This study aims to formulate a topical gel preparation from catfish skin collagen extract with the addition of CMC <em>(carboxymethyl</em> <em>cellulose</em>) as a <em>gelling agent</em>. The experimental research method was carried out with two gel formulas with different CMC concentrations (0.5% and 1%) and varying collagen concentrations of 10%, 15%, and 20%. Collagen extraction was carried out through pre-treatment with NaOH and CH₃COOH. The results showed a collagen yield of 13.79% from catfish skin, FTIR characteristics showed the presence of amide groups A, B, I, II, III typical of collagen, and the best gel was the formula with 0.5% CMC at collagen concentrations of 10% and 15% that met the quality requirements: semi-solid texture, white color, homogeneous, Safe pH for skin application (4.5-5.0), spreadability within a range of 5-7 cm, and adhesion (>1 second). In conclusion, catfish skin collagen extract has potential as a raw material for topical gels for wound healing.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Liza Mahera, Eka Arismayanti, Mufidhatul Muqarramah, Harun Indra Kusuma, Bambang Darmonohttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2134EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI DAERAH KABUPATEN BEKASI TAHUN 20242025-12-24T10:08:14+00:00Napsiah Atika Sari[email protected]Rosiana[email protected]Masita Sari Dewi[email protected]Nuzul Gyanata Adiwisastra[email protected]<p>Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan bawah yang masih menjadi masalah kesehatan global. Menurut data <em>World Health Organization</em> (WHO), pada tahun 2021, pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya, dengan 9,2 juta kasus terjadi secara global. Penyakit ini menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan 92% kasus terjadi di wilayah Asia dan Afrika. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dewasa berdasarkan metode <em>Gyssens</em> di instalasi rawat inap Rumah Sakit di daerah Kabupaten Bekasi pada tahun 2024. Penelitian ini merupakan studi non-eksperimental dengan desain deskriptif dan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien dan dianalisis secara kuantitatif. Sampel dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Dari pasien dewasa yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berada dalam rentang usia 56–65 tahun (69%) dan berjenis kelamin laki-laki (54%). Penyakit penyerta terbanyak adalah tuberkulosis paru (23%). Terapi antibiotik yang paling sering digunakan adalah terapi tunggal levofloxacin (38%). Evaluasi menggunakan metode Gyssens menunjukkan bahwa 77% penggunaan antibiotik termasuk dalam kategori tidak rasional, dengan ketidaktepatan paling sering ditemukan pada aspek pemilihan obat dan durasi terapi. Mayoritas penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dewasa di Rumah Sakit Di Daerah Kabupaten Bekasi masih belum sesuai dengan prinsip rasional, sehingga diperlukan evaluasi rutin dan penguatan implementasi pedoman penggunaan antibiotik untuk menekan angka resistensi antimikroba.</p> <p>Pneumonia is a lower respiratory tract infection that remains a global health problem. According to World Health Organization (WHO) data, pneumonia affects approximately 450 million people annually, with 9.2 million cases occurring globally. This disease ranks third as the leading cause of death in the world, with 92% of cases occurring in Asia and Africa. This study aims to evaluate the rationality of antibiotic use in adult pneumonia patients based on the <em>Gyssens </em>method in inpatient installations of hospitals in Bekasi Regency in 2024. This study is a non-experimental study with a descriptive design and a retrospective approach. Data were obtained from patient medical records and analyzed quantitatively. The sample was selected using a purposive sampling technique according to predetermined inclusion and exclusion criteria. From the adult patients who met the inclusion criteria, the majority were in the 56–65 years age range (69%) and male (54%). The most common comorbidity was pulmonary tuberculosis (23%). The most frequently used antibiotic therapy was levofloxacin monotherapy (38%). Evaluation using the <em>Gyssens</em> method showed that 77% of antibiotic use was irrational, with the most frequent inaccuracies found in the aspects of drug selection and duration of therapy. The majority of antibiotic use in adult pneumonia patients at hospitals in Bekasi Regency is still not in accordance with rational principles, so routine evaluation and strengthening of the implementation of antibiotic use guidelines are needed to reduce the number of antimicrobial resistance.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Napsiah Atika Sari, Rosiana, Masita Sari Dewi, Nuzul Gyanata Adiwisastrahttps://ejournal.stifar-riau.ac.id/index.php/jpfi/article/view/2155FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN BODY SCRUB SERBUK CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa L.) UNTUK MENGANGKAT SEL KULIT MATI2025-12-30T10:11:34+00:00Habibie Ghiffari[email protected]Risalsa Nabila[email protected]Primanita Novi Andriati[email protected]<p>Cangkang kerang darah (<em>Anadara granosa </em>L.) mengandung 98% kalsium karbonat (CaCO₃) yang berfungsi sebagai exfoliant, membantu regenerasi sel kulit, serta mencerahkan kulit sehingga potensial dimanfaatkan sebagai bahan abrasif dalam pembuatan <em>body scrub</em>. Penelitian ini bertujuan merumuskan sediaan <em>body scrub</em> dari limbah cangkang kerang darah dengan konsentrasi 0%, 5%, 15%, 25%, dan 35% (F1–F5) serta mengevaluasi stabilitasnya. Uji organoleptik menunjukkan seluruh formula stabil tanpa perubahan warna, aroma, atau bentuk dan tetap homogen. Tipe krim yang dihasilkan adalah minyak dalam air. Uji pH, daya lekat, dan viskositas menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05), dengan viskositas berkisar 3.250–21.500 Cps pada suhu 4°C dan 25°C. <em>Cycling test</em> enam siklus juga menunjukkan tidak terjadi perubahan maupun pemisahan fase. Uji iritasi pada 15 sukarelawan menyatakan seluruh formula aman digunakan. Formula terbaik diperoleh pada konsentrasi 15%.</p> <p>The blood clam shell (<em>Anadara granosa</em> L.) contains 98% calcium carbonate (CaCO₃), which functions as an exfoliant, promotes skin cell regeneration, and brightens the skin, making it a potential abrasive material for body scrub formulations. This study aimed to develop a body scrub formulation from blood clam shell waste with concentrations of 0%, 5%, 15%, 25%, and 35% (F1–F5) and to evaluate its stability. Organoleptic testing showed that all formulas remained stable without changes in color, scent, or texture and were consistently homogeneous. The resulting cream type was oil-in-water. pH, adhesion, and viscosity tests indicated no significant differences (p>0.05), with viscosity ranging from 3,250 to 21,500 cPs at 4°C and 25°C. A six-cycle cycling test also revealed no phase separation or color change. Irritation testing on 15 volunteers confirmed that all formulas were safe for use. The best formulation was obtained at a concentration of 15%.</p>2026-01-02T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2025 Habibie Ghiffari, Risalsa Nabila, Primanita Novi Andriati